Kam. Sep 29th, 2022

Pada jaman dahulu ada sebuah kerajaan di Jawa Barat yang dipimpin oleh Raja Giri Layang. Dalam mengelola negeri, ia dibantu oleh adik perempuannya bernama Putri Giri Larang. Mereka berdua memerintah kerajaan dengan bijaksana dan rakyatnya sejahtera.

Baca juga artikel mengenaiPilihan SD Negeri Terbaik di Bandung dan masih banyak lagi info mengenai kota Bandung hanya di Pesona Bandung.

Suatu saat, Putri Giri Larang meminta izin kepada kakaknya untuk merantau mencari ilmu. Dengan penuh sayang, Raja Giri Layang merangkul adik perempuannya, “Jika itu memang keinginanmu, Kanda mengizinkannya. Kanda akan berdoa semoga kau mendapatkan apa yang kau mau. Namun, ingatlah pesan Kanda, pergilah ke arah timur dan jangan pernah melewati perbatasan.”
Putri Girl Larang pun memulai perjalanannya. la berjalan kaki ke arah timur melewati hutan, gunung, lembah, dan berbagai macam rintangan. Setelah berbulan-bulan berjalan, ia tiba di sebuah hutan belantara. Ketika sedang melepas Ielah, Putri Giri Larang menemukan sebuah telaga bening yang dikelilingi oleh taman yang sangat indah.
“Indah sekali tempat ini, siapakah yang menbuatnya?” guman Putri Giri Larang. Melihat kejernihan air telaga, Putri Giri Larang akhirnya memutuskan untuk mandi sambil melepaskah Ielah. la tidak menyadari bahwa ada seseorang yang memerhatikannya dari semak-semak. Orang tersebut adalah seorang patih dari sebuah kerajaan di Jawa yang bertugas merawat telaga tersebut. Telaga itu adalah tempat permandian raja-raja Jawa setelah selesai berburu. Patih itu teringat bahwa rajanya belum mempunyai istri. Gadis cantik tersebut dirasa cocok untuk mendampingi Sang Raja. Lalu, patih itu dengan sengaja mengambil selendang Putri Giri Larang. Melihat selendangnya diambil, Putri Giri Larang segera mengejar pencuri pakaiannya.

“Hei Siapa kau? Kembalikan pakaianku!”
Patih sengaja memperlambat larinya agar sang putri mengikutinya. Sampailah mereka di dalam Istana Raja. Melihat seorang putri yang cantik jelita itu, Raja langsung jatuh hati.

“Putri yang cantik. Aku sedang mencari seorang permaisuri untukku, maukah kau menjadi istriku?”
Tiba-tiba, Putri Giri Larang merasakan tubuhnya lemah dan kekuatannya hilang. la teringat pesan kakaknya agar tidak melewati perbatasan clan kini ia telah melanggarnya. Dengan terpaksa, ia menerima lamaran Sang Raja.

“Aku bersedia menjadi istrimu dengan satu syarat, jangan pernah mau tahu atau mencampuri urusan perempuan.”
Raja setuju dan mereka pun menikah. Lalu, Putri Giri Larang mengandung. Suatu hari, Putri Girl Larang hendak menanak nasi. Setelah menutup tempat menanak nasi ia pun pergi untuk mandi. Ketika ditinggal untuk mandi, suaminya datang ke dapur. Sang raja ingin tahu apa yang sedang dimasak istrinya. Betapa terkejutnya ia, ternyata isi tempat menanak nasi tersebut hanyalah sebatang padi.

Ketika mengetahui bahwa masakannya telah dilihat oleh suaminya, Putri Giri Larang sangat marah.
“Kakanda telah melanggar perjanjian kita ketika menikah,” katanya kepada suaminya. Lalu, ia kembali ke istana kakaknya.

Raja Giri Layang sangat senang adiknya kembali.
“Maafkan, Kanda! Adinda telah melanggar pesan, Kanda,” kata Putri Giri Larang sambil menangis.
“Sudahlah Dinda, sekarang kau harus banyak beristirahat, karena kau sedang mengandung.”
Beberapa waktu setelahnya, Putri Giri Larang melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Adipati Jatiserang. Putri Giri Layang sangat khawatir jika suatu saat, ayah Jatiserang akan datang dan berniat mengambilnya.

Kemudian, Raja Giri Layang berunding dengan patihnya, yaitu Patih Endang Capang dan para menterinya. Mereka sepakat untuk bersembunyi di dalam kulah, yaitu lubang besar di bawah tanah. Raja Giri Layang memerintahkan untuk membuat empat buah kulah sebagai tempat persembunyian keluarga kerajaan. Raja Giri Layang memutuskan bersembunyi bukan karena tidak sanggup menghadapi tentara kerajaan lain yang akan datang menyerang, ia hanya tak ingin rakyat mereka menjadi korban.

Tidak lama kemudian, datanglah pasukan dari kerajaan seberang yang dipimpin oleh dua orang patih, yaitu Patih Mangkunagara dan Patih Surapati. Mereka bermaksud menjemput paksa Putri Giri Larang dan putranya. “Kami mencari raja kalian,” kata kedua patih itu pada Patih Endang Capang.
“Maaf Tuan, Putri Giri Larang dan Raja Girl Layang telah wafat. Sementara itu, putra Giri Larang, yaitu Adipati Jatiserang sedang berguru ke negeri seberang.”

“Kami tidak percaya!” seru mereka.

Kemudian, Patih Endang Capang membawa pasukan tersebut ke lokasi kulah. Mereka melihat empat gundukan tanah yang menyerupai makam. Karena masih tidak percaya, kedua patih tersebut memerintahkan pasukannya untuk menggali makam tersebut. Namun, ketika hendak menggali tiba-tiba semuanya jatuh lemas. Kekuatan mereka terisap oleh kekuatan Putri Giri Larang dan Raja Giri Layang yang sedang bersembunyi di bawah tanah itu.

Patih Mangkunagara dan Patih Surapati memerintahkan untuk menghentikan usaha mereka menggali makam.

“Lebih balk kita jangan pulang, karena malu rasanya jika kita pulang tanpa hasil. Lebih balk sekarang kita ngalawung saja di sini, karena aku yakin mereka bersembunyi di sekitar sini,” kata Patih Mangkunagara.

Arti kata ngalawung adalah duduk bertemu atau berhadapan. Untuk mengenang peristiwa tersebut, daerah itu dinamakan Girilawungan yang kini dikenal dengan nama Babakan Jawa.